Para Ulama dan Ahli Hadits Mengkritik al-Albani

shares

Syekh Al-Albani sering juga mengeritik para ulama lainnya diantaranya beliau juga mengeritik buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq dan buku At-Tajj Al Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini. Al-Albani sering menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung maupun tidak langsung. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu  Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak menemukan rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa ! Disamping kritikan diatas ini, tidak kurang para ulama-ulama lainnya yang mengeritik Syekh Al-Albani ini yang saya dapati diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Sarjana ahli hadits India yang bernama Habib al-Rahman al-A`zami telah menulis buku yang berjudul al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Al-Albani) dalam empat jilid.

2.  Sarjana Syria yang bernama Muhammad Sa`id Ramadan al-Buuti menulis dalam dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid`atin Tuhaddidu al-Shari`a al-Islamiyya (“Not Following A School of Jurisprudence is the Most Dangerous Innovation Threatening Islamic Sacred Law”) dan al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka La Madhhabun Islami (“The `Way of the Early Muslims’ Was A Blessed Historical Epoch, Not An Islamic School of Thought”).                                      

3.  Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari buku-bukunya yang berjudul e Irgham al-Mubtadi` al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-Radd `ala al-Albani al-Wabi;  (“The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of Using the Prophet as an Intermediary in Refutation of al-Albani the Baneful”), al-Qawl al-Muqni` fi al-Radd `ala al-Albani al-Mubtadi`  (“The Persuasive Discourse in Refutation of al-Albani the Innovator”), dan Itqan al-Sun`a fi Tahqiq Ma`na al-Bid`a (“Precise Handiwork in Ascertaining the Meaning of Innovation”).

4.  Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd al-`Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari bukunya berjudul Bayan Nakth al-Nakith al-Mu`tadi (“The Exposition of the Treachery of the Rebel”).

5.  Sarjana Hadits dari Syria yang bernama `Abd al-Fattah Abu Ghudda bukunya yang berjudul Radd `ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima (“Refutation of the Falsehoods and Fabrications of Nasir al-Albani and his Former Friend Zuhayr al-Shawish and their Supporters”).
                                                                           
6.  Sarjana hadits dari Mesir yang bernama Muhammad `Awwama  bukunya berjudul  Adab al-Ikhtilaf  (“The Proper Manners of Expressing Difference of Opinion”).

7.  Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh buku-bukunya berjudul Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd `ala al-Albani (“The Alighting of Mutual Benefit and Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani `ala Shohih Muslim (“Warning to the Muslim Concerning al-Albani’s Attack on Shohih Muslim”).

8.  Sarjana hadits dari Saudi Arabi yang bernama  Isma`il ibn Muhammad al-Ansar buku-bukunya yang berjudul Ta`aqqubat `ala “Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani (“Critique of al-Albani’s Book on Weak and Forged Hadiths”), Tashih Sholat al-Tarawih `Ishrina Rak`atan wa al-Radd `ala al-Albani fi Tad`ifih (“Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak`as and the Refutation of Its Weakening by al-Albani”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd `ala al-Albani fi Tahrimih (“The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to al-Albani’s Prohibition of it”). –

9.  Sarjana Syria Badr al-Din Hasan Diab bukunya berjudul Anwar al-Masabih `ala Zulumat al-Albani fi Sholat al-Tarawih (“Illuminating the Darkness of al-Albani over the Tarawih Prayer”). —– Direktur dari Pensubsidian Keagamaan (The Director of Religious Endowments) di Dubai, yang bernama `Isa ibn `Abd Allah ibn Mani` al-Himyari buku bukunya yang berjudul al-I`lam bi Istihbab Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam (“The Notification Concerning the Recommendation of Travelling to Visit the Grave of the Best of Creation) dan al-Bid`a Al-Hasana Aslun Min Usul al-Tashri` (“The Excellent Innovation Is One of the Sources of Islamic Legislation”). - Menteri Agama dan Subsidi dari Arab Emiraat (The Minister of Islamic Affairs and Religious Endowments in the United Arab Emirates) yang bernama Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-Khazraji yang menulis artikel  al-Albani: Tatarrufatuh  (“Al-Albani’s Extremist Positions”).

10.  Sarjana dari Syria yang bernama Firas Muhammad Walid Ways dalam edisinya yang berjudul  Ibn al-Mulaqqin’s Sunniyyat al-Jumu`a al-Qabliyya (“The Sunna Prayers That Must Precede Sholat al-Jumu`a”).
                             
11.  Sarjana Syria yang bernama Samer Islambuli bukunya yang berjudul  al-Ahad, al-Ijma`, al-Naskh.

12.  Sarjana Jordania yang bernama As`ad Salim Tayyim bukunya yang berjudul Bayan Awham al-Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Sholat `ala al-Nabi.

13.  Sarjana Jordania Hasan `Ali al-Saqqaf menulis dua jilid yang berjudul Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat (“Albani’s Patent Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He Committed While Declaring Hadiths to be Sound or Weak”), dan tulisan-tulisannya yang lain ialah Ihtijaj al-Kha’ib bi `Ibarat man Idda`a al-Ijma` fa Huwa Kadhib (“The Loser’s Recourse to the Phrase: `Whoever Claims Consensus Is a Liar!’”), al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawm al-Sabt (“The Firm Discourse Concerning Fasting on Saturdays”), al-Lajif al-Dhu`af li al-Mutala`ib bi Ahkam al-I`tikaf(“The Lethal Strike Against Him Who Toys with the Rulings of I`tikaf),Shohih Sifat Sholat al-Nabi Sallallahu `alayhi wa Sallam (“The Correct Description of the Prophet’s Prayer “), I`lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an `ala al-Junub wa al-Ha’id (“The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to those in a State of Major Defilement and Menstruating Women”), Talqih al-Fuhum al-`Aliya (“The Inculcation of Lofty Discernment”), dan Shohih Sharh al-`Aqida al-Tahawiyya (“The Correct Explanation of al-Tahawi’s Statement of Islamic Doctrine”). 

14. Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa pengasuh Majelis Rasulullah SAW Jakarta berkata mengenai Syeikh Al-Albani dalam Forum Tanya Jawab MR , bahwa :
“beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukin dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, 

Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya, 

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.

AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.

Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb, 

Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.

berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’. 

apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.

saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu, “
Dan masih banyak ulama berbeda madzhab yang mengeritik kekhilafan dan kesalahan Syekh Al-Albani dan pengikut madzhab Wahabi ini yang tidak tercantum disini. Kalau kita baca diatas, banyak ulama dari bermacam-macam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) mengeritik kekhilafan dan kesalahan ulama madzhab Wahabi, khususnya Syeikh al-Albani, maka kita akan bertanya sendiri apakah bisa beliau ini dikatagorikan sebagai Imam Muhadditsin (Imamnya para ahli hadits) pada zaman sekarang ini sebagaimana yang dijuluki oleh sebagian golongan Salafi/Wahabi? Memang ada ulama-ulama yang memuji Syekh Al-Albani ini dan memuji ulama gologan Salafi/Wahabi lainnya, tapi ulama-ulama yang memuji ini semuanya semadzhab dan sejalandengan golongan Wahabi/Salafi.

Sudah tentu kita tidak jujur kalau mengatakan bahwa  semua pendapatfahamgolongan Salafi/Wahabi yang engaku sebagai penerus akidah dari Ibnu Taimiyyah atau Muhammad Ibnul Wahhab ini salah dan disangkal oleh ulama-ulama pakar lainnya, tapi ada juga pendapat-pendapat mereka mengenai syariat Islam yang sepaham dengan ulama-ulama madzhab lainnya. Yang sering disangkal tidak lain pendapatnya mengenai tajsim dan tasybih Allah swt.(akidah tauhid) dengan makhluk-Nya, yang mana hal ini bertentangan dengan firman-firman Allah swt. dan sunnah Rasulallah saw.

Disamping itu yang sering disangkal juga oleh para ulama madzhab sunnah mengenai akidah dan pendapat mereka yang membid’ahkan sesat, sampai-sampai berani mensyirikkan tawassul, tabarruk pada pribadi orang baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, ziarah kuburperingatan keagamaan,kumpulan majlis dzikir dan lain sebagainya (baca keterangan tersendiri mengenai bab-bab ini). Padahal semuanya ini mustahab untuk diamalkan serta tidak keluar dari syariat agama malah banyak dalil shohih baik secara langsung maupun tidak secara langsung yang menganjurkan amalan-amalan tersebut. Setiap Muslim boleh memohon pertolongan dan bertawassul, bertabarruk kepada para Nabi, wali Allah didalam setiap urusan, baik yang gaib maupun yang materi, dengan menjaga dan memperhatikan syarat-syarat sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Sekali lagi kami cantumkan sebagian judul buku dan nama-nama ulama yang mengeritik akidah atau keyakinan golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya, bukan ingin mencari kesalahan lawan atau ingin membongkar rahasia kekurangannya, tapi ingin menjelaskan para pembaca mengapa golongan Wahabi/Salafi selalu berani mensesatkan, mencela madzhab selain madzhabnya yang tidak sependapat dengan paham mereka. Tidak lain karena paham atau keyakinan mereka ini berbeda dengan madzhab-madzhab lainnya ! 

Sebenarnya berbeda pendapat antara madzhab atau golongan muslimin atau antara para ulama itu selalu ada, karena masing-masing mempunyai sudut pandang yang tersendiri. Umpamanya satu hadits didhoifkan oleh satu ulama, tapi hadits ini bisa juga oleh ulama’ lainnya dishohihkannya. Yang kitasesalkan dan sayangkan golongan Salafi/Wahabi dan pengikutnya sering menyalahkan, mensesatkan sampai-sampai berani mengkafirkan golongan muslimin lainnya karena tidak sepaham atau sependapat dengan mereka ini dan mereka merasa yang paling pandai, murni dan…..dalam syari’at Islam !. 

Kita cukupkan sampai disini pembahasan mengenai seputar paham/ke yakinan golongan Wahabi/Salafi. Diskusi dengan mereka memerlukan waktu yang panjang dan membutuhkan kitab yang tersendiri. Para ulama telah mem- bantah ajaran golongan Wahabi/Salafi didalam berpuluh-puluh kitab dan makalah yang mereka tulis. ‘Allamah Muhsin Amin telah membantah keyakinan-keyakinan Wahabi melalui syairnya yang panjang, yang terdiri dari 546 bait. Silahkan Anda rujuk di dalam kitabnya yang berjudul Kasyf al-Irtiyab fi atba ‘i Muhammad bin Abdul Wahhab. Banyak sekali kitab ulama dari berbagai madzhab (Hanafi, Malik Syafii dan lain lain) yang menyangkal golongan Wahabi/Salafi. Sanggahan para ulama mengenai akidah ulama-ulama golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya para pembaca bisa membaca sendiri dan memilih judulnya yang bersangkutan dengan akidah golongan ini dan pengikutnya dalam website bahasa Indonesia:
www.abusalafy.wordpress.com dan dalam bahasa Inggris www.ummah.net/Al_adaab/radd_ul_salafiyya.html.  Sebagian isi makalah dari bab ini kami kutip dan kumpulkan antara lain dari situs abu salafy (2007-2008)sebagai penulisnya saudara Sastro H dan website-website lainnya. Semoga Allah swt. memberi hidayah dan taufiq serta diampunkan dosa-dosa kita. Amin
Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.
Sumber:

-          Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi / Wahabi (oleh: A. Shihabuddin)

-          Majelis Rasulullah SAW (Habib Munzir Al-Musawa)

Related Posts

20 comments:

  1. Assalamualaykum...

    itu adalah kebohongan yang di ada adakan dan hati " dengan lisan anda itu bisa menjadi fitnah

    Fitnah atau ujian senantiasa hadir dalam perjalanan hidup manusia. Fitnah akan semakin besar ketika manusia jauh dari agamanya. Kembali kepada ulama sebagai orang yang paling mengerti hukum-hukum Allah dan yang paling takut kepada-Nya merupakan jalan yang mesti ditempuh bila ingin keluar dari lingkaran fitnah.

    ReplyDelete
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Nashiruddin_Al-Albani

    ReplyDelete
  3. http://www.insanislam.com/kajian/sirah/sejarah-singkat-syaikh-albani-rahimahullah.htm

    ReplyDelete
  4. Sebaik baik perkataan adalah Kitabulloh,dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammda Sholallohu Alaihi Wassalam, dan bahwasanya Agam Islam ini telah sempurna sbagaiman Alloh Subhanahuwata'ala telah berfirman :
    "Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni'mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu.." [QS. Al_Maidah:3]
    Maka apakah para sahabat pernah mencontohkan berdo'a atau tabaruk dikuburan Rasululloh?? atau nabi pernah menyuruh sahabatnya melakukan hal tersebut??
    Al Imam Ibn Katsir berkata mengenai ayat diatas: "Ini adalah ni'mat Allah Ta'ala paling besar terhadap ummat ini, di mana Allah Ta'ala telah menyempurnakan agama mereka, sehingga tidak lagi membutuhkan agama yang lain, dan tidak pula memerlukan Nabi selain Nabi mereka Muhammad shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam. Karena itulah Allah Ta'ala mengutus beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada sesuatu yang halal kecuali apa yang dihalalkannya. Tidak ada perkara yang haram melainkan apa yang diharamkannya. Dan tidak ada agama (yang benar) kecuali apa yang disyari'atkannya.
    Semua berita yang disampaikannya adalah benar dan pasti. Bukan dusta dan pertentangan. [Ibnu Katsir 2/13]
    adapun apa yang terdapat pda blog abu salafy telah terbantah oleh Ust Firanda yang terdapat pada firanda.com
    maka selayaknyalah kita berhati hati dalam berkata dan menyebarkan perkataan seseorang sehingga tidak menjadikan fitnah
    wallaahu 'alam bishowab

    ReplyDelete
  5. dalam blog ada tulisan :
    .... Sebenarnya berbeda pendapat antara madzhab atau golongan muslimin atau antara para ulama itu selalu ada, karena masing-masing mempunyai sudut pandang yang tersendiri. .....

    kemudian diakhir blog ada tulisan :
    .... Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

    dua sisi berbeda dari seorang penulis. menunjukkan antara yang disampaikan dan diyakini berbeda. jadi sebaiknya ... sesama muslim
    mari merujuk kepada Al Qur'an (Allah) dan Sunnah (Rasulullah) (QS. 4 : 59) sehingga meski ada perbedaan tetap saling menghormati, karena dalam Al Qur'an pun Allah berfirman : ... "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. 28 : 55)(QS. 42 : 15)

    ReplyDelete
  6. Wahai pecinta syeh albani,berapa hadis sih yg di hapal koq anda2 ini menjadi pengikut dan mempercayai semua fatwanya.???
    Bukan disebut fitnah kalau sdh ada bukti kuat

    Dulu walisongo mengislamkan orang kafir di jawa,sekarang kaum wahabi mengkafirkan org islam di jawa

    ReplyDelete
  7. Bedanya antara blognya Ahlus-sunnah wal-jama'ah dengan kelompok sebelah kiri neraka ( WAHABI ) .....
    Kalau Komentar di sini walaupun berbeda tidak dihapus ....
    Tetapi kalau di kelompok sebelah pasti dihapus ....

    Menurut anda baik mana ? hehehehehe

    ReplyDelete
  8. WAHABI mmg menunjukan kerendahan ilmu.....kasian bgt liat mereka.....itulah akibat belajar hanya pd buku tanpa guru dgn sanad yg jelas smpai ke Rosul.....sama aja org belajar sekolah formal ga ada guru nya pasti ga bener...buku hanya tuntunan yg hrs diberi penjelasan lg dr guru yg benar ilmu nya...al-qur'an pun klo tdk ada guru yg benar ya pasti melenceng makna nya...liat aja AHMAD MUSADDEQ smpai ngaku2 nabi...itu krn ga ada GURU yg benar....niy ntar lama2 WAHABI bs pada ngaku Nabi....soal nya merasa pendapat mereka yg paling benar....wah kasian...hei WAHABI ingat lho IBLIS laknatullah jg MAKRIFAT atau kenal Allah....bukti nya dia bs berbincang2 dgn Allah dan pernah menjadi pemimpin malaikat di Surga sblm Nabi Adam A.S diciptakan....jgn smpai kalian merasa bener sndr pdhl itu adalah hembusan IBLIS...bukti nya hati kalian keras ky batu.....keras kepala tdk mau menerima hikmah dr ulama2 dr terpercaya....ingat itu....sadar lah sblm terlambat....

    ReplyDelete
  9. kalo saya sih gaktau benar ato tidaknya tulisan di atas.. karena emang seorang ulama ini pasti banyak dimusuhi orang (terlepas dari apakah al-Bani itu syaikh sungguhan ato bukan). jika emang beliau pantas dipanggil syaikh, mestinya beliau hafidh al-Quran dan ribuan hafidh hadis beserta sanadnya sebelum memberikan status keshohihan hadis tsb.
    bahkan menurut saya, para peneliti perowi hadis yg paling kredibel ya para peneliti yang hidup di zaman yg paling dekat dgn zaman hidupny perowi hadis yg ingin ditelitinya. kurang kredibel apabila kita menilai seseorg yg tidak hidup sezaman dgn kita, terutama karena kita gak bisa mendalami bagaimana keseharian perowi hadis tsb dgn mengamati secara langsung.
    lagian juga, emang para penghimpun kitab hadis (spt imam Bukhori, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dsb) belum memberikan status keshohihan hadis yg beliau teliti? insya Alloh mereka lebih mengerti bgmn kredibilitas perowi hadis yg mereka teliti secara langsung kesehariannya dan apakah hadis yg perowi hadis ini ucapkan itu memang benar2 dari Nabi s.a.w ato bukan. karena Nabi s.a.w berpesan: "Perhatikanlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yg mengatakan". Bisa saja seorg perowi yg dhoif kredibilitasny suatu saat menceritakan hadis yg betul2 sama persis dgn yg disampaikan Nabi s.a.w dan bisa saja seorg perowi yg shohih kredibilitasny suatu saat dilupakan Alloh utk menceritakan hadis yg kurang persis sama dgn yg disampaikan Nabi s.a.w.
    bahkan, Nabi s.a.w saja pernah membenarkan ucapan setan ttg keutamaan ayat Kursiy walopun umumnya ucapan SETAN itu ucapan seorang yg jelek dan pendusta. walloohu a'lam bisshowaab

    ReplyDelete
  10. @ pancatunggal. Sebenarnya kalimat 'Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya'. tidak ada dalam tulisan A.Shihabuddin disitusnya www.everyoneweb/tabarruk.com yang ada dalam bab 2: " Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya, tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya".

    ReplyDelete
  11. para pengikut wahabi itu menerima hasil panen dari apa yang mereka tanam. mereka membid'ahkan, memusyrikkan, dan mengkafirkan orang-orang yang 'amaliahnya tidak sesuai dengan tafsiran mereka atas Al-Qur'an dan Hadits lalu mereka katakan itu sebagai dalil dari Al-Qur'an dan Hadits itu sendiri.

    mereka para pengikut wahabi menyebut orang lain ulama padahal ulama-ulama sejamannya saja menyebut orang tersebut terputus sanad ilmunya. coba ente fikirkan para pengikut wahabi, ente itu membela albani seolah-olah albani itu paling benar ilmu haditsnya, siapakah sebenarnya albani? konsisten pada pernyataan kalian albani itu manusia biasa bukan nabi dan bukan pula tuhan jadi jangan taqlid buta.

    para pengikut wahabi dengan mudah mengatakan orang lain itu taqlid buta kalau mengikuti ulama yang pemahamannya tidak sama dengan mereka.

    memangnya Al-Qur'an dan Hadits itu karangan bapakmu apa? cuma kamu yang punya hak membenarkan dan menyalahkan pemahaman orang? Istighfar para pengikut wahabi.

    Qur'an dan Sunnah itu Kalamullah dan Sabda Nabi yang kebenarannya dijaga oleh Allah SWT melalui sanad-sanad yang lurus, albani itu sanadnya dari siapa memahami ilmu hadits? dari impen apa dari ngimpleng? membaca saja tanpa guru pada setiap ayat dan hadits kemudian menelusuri sendiri parowinya tanpa guru itu tidak sah dalam ilmu islam meskipun sejuta buku yang dia baca.

    ulama-ulama yang sejaman dengan albani sudah mengatakan albani putus sanad jadi maaf albani bukan ulama. ayahnya albani saja marah pada albani ketika albani menggunakan cara sendiri tanpa seorang guru dalam mempelajari hadits. silahkan para pengikut wahabi mengarang sendiri sejarahnya albani karena para pengikut wahabi memang suka mengarang sendiri persis sama seperti albani yang suka mengarang.

    ReplyDelete
  12. kita itu orang awam dalam memahami quran dan hadist maka wajib bagi kita untuk mengikuti imam mazhab karena mereka lebih faham quran dan hadist. zaman mereka lebih dekat dengan rasul, jadi kemurnian hadist msh terjamin...albani itu melangkahi imam 4 mazhab seolah2 hanya dy yg tw hadist ini dhoif atau shoheh, dia itu keluar dri mazhab hanafi.

    ReplyDelete
  13. Yg paling semangat mencaci ulama, baik yg ngaku aswaja maupun salafi, biasanya ilmunya CETEK atau aslinya SYIAH atau YAHUD*, calon2 penghuni NERAKA. 4 imam mazhab saja saling berguru, meskipun berbeda pendapat. Hati2, Allah tidak tidur, jangan asal2an dlm menulis atau komentar, salah tuduh, semua balik ke Anda. Membicarakan kejelekan org lain saja dilarang apalagi kalau fitnah.

    ReplyDelete
  14. siapa bilang dia melangkahi 4 imam,kalau tidak ada orang yang mengecek hadist tuh palsu atau lemah dan shohih maka semua orang bisa buat hadist seenaknya,4 imam juga sama mereka berkata jika pendapatku bertentangan dengan hadist shohih maka hadist shohih yang mereka ambil baik masih hidup atau sudah wafat

    ReplyDelete
  15. Sudah jelas al Albani cuma memakai kepala dan hawa nafsu. Beda dengan para muhaddits yang benar. Mereka selain pintar, juga menggunakan hatinya yang hidup sehingga menerima petunjuk Ilahi pada waktu menilai hadits.

    ReplyDelete
  16. https://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/204-habib-munzir-berbicara-tentang-ilmu-hadits-seri-2

    ReplyDelete
  17. apa yang disampaikan dalam kutipan habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, sungguh menyejukkan, perkataannya halus, tutur kata nya runut dan dengan penjelasan alasan-alasan, yang logis.
    dan masih ada 980.000 hadis yang tertelan jaman...itu kehendak ALLAH yang MAHA Kuasa

    ReplyDelete
  18. Para pencela "wahabi" disini adalah syiah atau yang terpengaruh dengah syiah atau yang tertipu dengan syiah. Sesungguhnya ketahuilah bahawa yang sangat membenci "wahabi" adalah golongan syiah yang sesat atau golongan yang telah ditipu oleh syiah seperti golongan sufi dan pemuja habib.

    ReplyDelete
  19. Wahabi itu kalau dikritik jawabnya syiah, syiah, soalnya saking rendah ilmunya dia gak bisa jawab kalau dikritik, albani itu gak konsisten, di satu waktu dia bilang si perawi lemah, tp di lain waktu dia orang yang hafalannya baik, apa yang kayak gitu mau dipercaya?

    ReplyDelete
  20. Begitu ramai kritik ulamak ahli hadith kok masih ngga percaya??aneh bukan..istikharah saja

    ReplyDelete

Silahkan berikan komentar atau pendapat anda mengenai tulisan di atas. Terimakasih.